Budaya dan Sosialisasi Politik Caleg



13835380711513887472



BUDAYA DAN SOSIALISASI POLITIK CALEG


Sebuah Uraian Kehidupan Hedonis DPRD Manggarai Pasca Terpilih



Oleh: Adrianus Aba, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris SKTIP St. Paulus Ruteng



Institusi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Manggarai raya terkesan sedang menyusun metamorfosa menuju marketing home. Hak Budgeting, social control, legislation seakan beralih langkah menuju konspirasi, kleptokrasi, Korupsi Kolusi Nepotisme, hedonisme, dan lain- lain. Metamorfosa ini tentu berkonfrontasi dengan keinginan rakyat Manggarai secara keseluruhan. Rakyat Manggarai yang sudah menganggap bahwa lembaga ini merupakan lembaga penyaluran aspirasi, kini harapan tersebut seakan sirna seiring waktu berjalan.



Kajian ini merupakan bagian dari refleksi pengaruh penerapan budaya Manggarai yang hidup di tengah situasi sosialisasi politik. Praktik anggota DPRD di-Manggarai yang seakan terkesan menerapkan kehidupan hedonisme tanpa memperhatikan nasib rakyat. Mereka cendrung berpikir memulihkan ekonomi pribadi jika dibandingkan dengan mengurus rakyat.Cara pandang kepentingan kesenangan pribadi terus melekat pada dirinya sehingga banyak persoalan-persoalan yang muncul akibat kelalaian ini.Sebelum terpilih menjadi wakil rakyat pasti mereka menyusun siasat dan strategi yang kokoh dalam menarik simpatik rakyat. Mengapa ini terjadi?.Selain itu secuil ide-ide rekomendasi yang ditawarkan dalam memberikan langkah solutif atas berbagai permasalahan dalam pelaksanaan sosialisasi politik akibat dari pembiayaan budaya yang mahal di Manggarai.



Budaya yang Dimunculkan



Mengapa bahasa saya “Budaya yang Dimunculkan”?.Fenomena menarik terjadi hampir disetiap pelosok di Kabupaten manggarai raya, Nusa Tenggara Timur (NTT) bahwa kesulitan utama setiap sosialisasi politik dari para Calon Anggota Legislatif (Caleg) adalah berbicara tentang Cost/biaya.Hampir setiap para Caleg pasti selalu memikirkan biaya saat berjalan ke Kampung-Kampung untuk sosialisasikan diri.Pemikiran- pemikiran itu bertolak dari khasnya budaya Manggarai yaitu “Lonto Leok” (Duduk mengeliling)dalam bertukar gagasan membicarakan sebuah topik yang dibawakan para Caleg.



Kepok tiba (Acara adat penerimaan) yang selalu mengorbankan ayam dan arak Manggarai, Seng Wae lu,u ata pa,ang be len, (uang turut berduka cita terhadap arwah yang sudah meninggal), Hang (makan) yang biasanya varitif; ada yang menyembelikan babi dan ada juga ayam/ikan, Inung (minum) yang biasanya menyediakan kopi beserta arak, Rongko (Rokok) dan lain-lain merupakan unek-unek yang selalu menghantui pikiran para Caleg saat persiapan bersosialisasi diri.



Dari sekian ritus yang sering dilakukan dalam budaya “Lonto leok” orang Manggarai ini tentu tidak seperti membalikan telapak tangan dalam menjalaninya. Modal yang besar merupakan jaminan utama untuk menjalankan ritus-ritus tersebut. Kerja keras mencari uang pra-sosialisasi adalah hal yang selalu menghantui pikiran sang Caleg.



Memang ritus orang Manggarai merupakan sebuah budaya yang eksistensinya kokoh.Tetapi kadang praktik yang muncul yaitu belum waktunya muncul tetapi dimuncul-munculkan dalam rangka memanfaatkan keuntungan dari momen Caleg. Hal tersebut pasti akan mengorbankan para Caleg dan masyarakat itu sendiri. Tidak heran jika setiap masyarakat/Caleg selalu berpikir pesimis mendapatkan dukungan rakyat secara keseluruhan jika tak punya modal. Apakah tidak mungkin menjalankan ritus adat dengan simplifikasi biaya?.



Masalah kultur/budaya dalam sosialisasi politik Di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah masalah mengenai praktik politik yang terus berpikir biaya.Hal tersebut memang telah lama hidup di masyarakat. Meski Budaya menjadi sebuah kebanggaan daerah Manggarai, namun dalam konteks cara pandang masyarakat yang mencoba mengendarai budaya itu sendiri untuk memeras para Caleg merupakan tanda masyarakat belum paham dan belum siap berdemokrasi. Masyarakat bagaimanapun dianggap sebagai golongan terpenting dalam menentukan pilihan terbaik daerah ini. Kemajuan Daerah Manggarai akan mengalami stagnasi jika masyarakatnya belum mampu memahami kondisi kekiniannya, khususnya cara berpikir yang cendrung konsumtif dan kurang kreatif.



Sosialisasi Politik



Kamus Besar Bahasa Indonesia Mendefinisikan bahwa sosialisasi merupakan upaya memasyarakatkan sesuatu sehingga menjadi dikenal, dikenang, dipahami oleh masyarakat (poin 3). Sedangkan politik merupakan segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan, siasat dan sebagainya) dalam pemerintahan (poin 2). Hal tersebut dapat dibuat silogisme bahwa sosialisasi politik merupakan upaya mengenal politik di tengah masyarakat dengan cara yang bervariatif dalam rangka untuk diketahui dan dipilih.



Selain tujuan terdalam dalam sosialisasi politik yaitu mendapatkan dukungan dari konstituen, hal yang paling penting juga dia berperan untuk mengembangkan serta memperkuat sikap politik di kalangan warga masyarakat yang sadar politik, yaitu sadar akan hak dan kewajiban dalam kehidupan bersama. Simplifikasi dari usaha tersebut pasti melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas lainnya yang ada dalam masyarakat.



Michael Rush dan Phillip Althoff dalam bukunya yang berjudul Pengantar Sosiologi Politik, mengemukakan fungsi sosialisasi sebagai berikut: Melatih individu; Melatih individu yang dimaksudkan dalam bersosialisasi yaitu memasukkan nilai-nilai politik yang berlaku di dalam sebuah sistem politik. Pembelajaran mengenai pemahaman sistem politik suatu negara pun diajarkan di bangku sekolah dan saat dikaderkan di partai poltik.Alasan terdalam dalam sosialisasi politik yaitu untuk menanamkan pemahaman kepada semua warga negara sebagai subjek dan objek politik. Dalam proses pembelajaran politik tersebut dimungkinkan individu untuk menerima atau melakukan suatu penolakan atas tindakan pemerintah, mematuhi hukum, melibatkan diri dalam politik, ataupun memilih dalam pemilihan umum. Memelihara sistem politik; Sosialisasi politik juga berfungsi untuk memelihara sistem politik dan pemerintahanyang resmi. Setiap warga negara harus mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan sistem politik. Pemahaman tersebut dapat dimulai dari hal-hal yang mudah sifatnya, seperti warnabendera sendiri, lagu kebangsaan sendiri, bahasa sendiri, ataupun pemerintah yang tengahmemerintahnya sendiri. Melalui pemahaman tersebut, setiap warga negara dapat memiliki identitas kebangsaan yang jelas.



Dalam konteks sosialisasi politik para Caleg di Manggarai fungsi sosialisasi politik merupakan bagian dari tanggung jawab masyarakat akan kontribusinya bagi pembangunan daerah. Misalnya; masyarakat ikut ambil bagian secara gotong royong tanpa membutuhkan biaya dari Pemerintah untuk membersihkan jalan raya, membersihkan kampung halaman, memberikan kritikan jika pemerintahnya salah atau keliru, mengurangi mental konsumtif, lebih kreatif untuk mempertahankan ekonomi keluarga, dan sebagainya. Sehingga jika sosialisasi politik dijalankan secara maksimal dan masyarakat Manggarai dibekali dengan sedikit pengetahuan berwarga Negara yang baik dan benarmaka hal ini bagian dari usaha memberantaskan kemiskinan, keterbelakangan pembangunan, pemberantasan KKN dan pemberantasan pengangguran akibat dari karakter yang malas (Ngonde).



DPRD Mengembalikan Utang



Sadar atau tidaknya, cara berpikir membumi konteks kekinian adalah “ Menjadi DPRD adalah mereka-mereka yang sudah matang secara Ekonomi”. Lalu bagaimana dengan para Caleg yang miskin secara ekonomi tetapi kaya akan kemampuan?. Dalam artian bahwa para Caleg yang secara obyektif dinilai mampu memahami akan tugas dan wewenangnya menjadi anggota DPRD. Jika biaya operasional kampanye semakin tinggi karena faktor budayanya, maka saya terlalu yakin bahwa mereka pasti “emi le emi lau agu ata bora’’ (pinjam modal dengan orang kaya) saat berkampanye. Beratnya tuntutan biaya yang ditawarkan sehingga mereka terpaksa berjuang meminjam modal orang lain. Lalu bagaimana pengembaliannya?.Tentunya dijanjikan dikembalikan jika sudah duduk diparlemen.



Situasi ini tidak heran jika para anggota DPRD Manggarai bersikap hedonis tanpa memikirkan rakyatnya. Sebab darimana mereka mengembalikan utangnya saat sosialisai politik kalau bukan hasil konspirasi di DPRD. Wajar saja jika mereka melakukan demikian sebab mereka juga ingin mempertahankan hidup.Menutupi ekonomi keluarga dan utang adalah makanan empuk di pikiran mereka setiap hari.Mereka jarang memikir rakyatnya. Sebab siapa yang mau mati karena utang!.



Rekomendasi



Kultur dalam sosialisasi politik merupakan suatu kategori atau konsep dinamik yang menjadi kunci untuk menganalisis pristiwa politik dalam kehidupan masyarakat adat Manggarai.Mampu mengeluarkan diri cengkraman kemiskinan yang terus melanda.Mengapa kultur menjadi kunci analisis?. Sebab kultur yang dapat membedakan manusia sebagai manusia dan makluk rasional yang bermartabat dalam pelaksanaan politik praktis di tengah masyarakat Manggarai.



Budaya Manggarai yang bahasa saya di awal yang berusaha dimuncul-munculkan terkait profit pribadi akan berdampak pada stagnasinya pembangunan di Manggarai. Oleh karena itu dalam menghadapi permasalahan-permasalahan ini maka diperlukan adanya kecerdasan kultural dalam menyonsong momen Caleg. Kecerdesan-kecerdasan tersebut antara lain; Kecerdasan Kultural Metakognitif; yaitu sebuah kemampuan untuk mengontrol cara berpikir dalam proses kognitif individu yang sering mengakal-akali budaya Manggarai terkait memeras para Caleg. Memaknai dirinya dalam berhubungan dengan para Caleg.Demikian juga para Caleg harus memahami bahwa mengenal budaya Manggarai bukan satu-satunya saat sosialisasi diri. Mereka hendaknya membiasakan rakyatnya untuk berpikir sederhana tanpa membebankan acara adat yang membutuhkan biaya yang mahal. Sebab substansinya mempertanggungjawabkan kepercayaan masyarakat saat duduk di parlemen. Hal tersebut dilakukan agar membawa masyarakat Manggarai untuk memahami politik secara benar. Kecerdasan Kultural Kognitif; yaitu kemampuan untuk memahami budayanya sendiri. Masyarakat akan mengasimilasikan pengetahuan budaya tentang nilai, keutamaan dan kearifan lokal bukan mencari keuntungan diri. Sehingga pasca sosialisasi, entah lolos atau tidaknya menjadi angota DPR akan diwarnai dengan happy-ending alias tidak saling merugikan. Kecerdasan cultural Motivasional; yaitu kemampuan mengarahkan perhatian dan energi dalam diri untuk berfungsi secara efektif di momen Caleg.Mengarahkan sikap dan prilaku agar tidak saling peras saat sosialisasi poltik. Hendaknya mampu keluar dari budaya-budaya materialistik menuju prisinpil demi kemajuan daerah Manggarai. Kecerdasan Kultural Behavioral; yaitu kecerdasan kemampuan untuk memperlihatkan prilaku secara verbal maupun non verbal ketika berinteraksi. Kemampuan ini merupakan sejauhmana bertindak secara tepat dan benar dalam bersosialisasi berbasis budaya.Keramahan adalah hal yang paling penting bukan uang. Kesenangan dalam “Lonto Leok “ merupakan poin utamanya serta dibuktikan dengan pro-aktif untuk berdiskusi tentang kemajuan daerah Manggarai.



Manggarai yang terus dihantui dengan keterpurukan pembangunannya akibat dari lemahnya peran dan wewenang DPRD akan berdampak pada surutnya kepercayaan masyarakat terhadap legislator. Ulasan ini setidaknya dapat memahami mengapa anggota DPRD tidak bekerja untuk rakyat dan apa yang mungkin disiapkan dalam penguatan kecerdasan dalam menyambut pesta demokrasi 2014.





sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/11/04/budaya-dan-sosialisasi-politik-caleg--605148.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger